Skip to content

October 28, 2011

hak dan kewajiban anak dalam Islam

Oleh: kang sumar
PENDAHULUAN
Anak merupakan persoalan yang selalu menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat, bagaimana kedudukan dan hak-haknya dalam keluarga dan bagaimana seharusnya ia diperlakukan oleh kedua orang tuanya, bahkan juga dalam kehidupan masyarakat dan negara melalui kebijakan-kebijakannya dalam mengayomi anak. Ada berbagai cara pandang dalam menyikapi dan memperlakukan anak yang terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin dihargainya hak-hak anak, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Menurut ajaran Islam, anak adalah amanah Allah dan tidak bisa dianggap sebagai harta benda yang bisa diperlakukan sekehendak hati oleh orang tua. Sebagai amanah anak harus dijaga sebaik mungkin oleh yang memegangnya, yaitu orang tua. Anak adalah manusia yang memiliki nilai kemanusiaan yang tidak bisa dihilangkan dengan alasan apa pun.
Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah at}-t}ifl. Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata at}-t}ifl sebagai anak kecil hingga usia baligh. Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal. Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan anak sebagai keturunan kedua. Di samping itu anak juga berarti manusia yang masih kecil. Anak juga pada hakekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia. Dalam kontek ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).
Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut kata at}-t}ifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67. Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata at}-t}ifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.
Pembahasan seputar anak dalam makalah ini khusus akan membahas tentang kedudukan dan hak anak dalam perspektif Al-Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka. Al-Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya.
Keberadaan anak dapat menjadi:
1) Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya,
2) Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24],
3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A’ayun), [QS: 26: 74],
4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi
5) fitnah, [QS: 8; 28]
6) bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya [QS: 65: 14]
Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia. Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif. Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderunganya semakin tampak. Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-T}ifl al-Muslim: Dalilul Mu’allimi>n wal Aba>’ Ilat-Tarbiyati Abna>’, masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.
Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun.
Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya. Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya.
Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nailai luhur dan bermartabat. Dalam konteks ini, Al-Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh kerena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk. Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangka dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat. Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya. Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.
Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu:
1) Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya.
2) Intelektualnya, seperti, kecerdasan dan atau kebodohan.
3) Tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka.
4) Alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal.
5) osiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak ‘Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’ menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya. Sehingga tujuan akhir dari dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikut sertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang tua, guru dan mereka yang mendidiknya.
Adanya tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan anak, menunjukkan bahwa anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapan-kelengkapan dasar dalam dirinya baru mulai mencapai kematangan hidup melalui beberapa proses seiring dengan pertambahan usianya. Oleh karena itu anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang tua. Akan tetapi fenomena kelalaian dan penelantaran anak merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat, sebaliknya juga perebutan anak antara orang tua sering terjadi seakan-akan anak adalah harta benda yang dapat dibagi-bagi, dan setelah dibagi seolah putuslah ikatan orang tua yang tidak mendapatkan hak asuhnya. Walaupun sebenarnya masalah kedudukan anak dan kewajiban orang tua terhadap anak ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan hukum Islam.

PEMBAHASAN
Di dalam al-Qur’an, anak sering disebutkan dengan kata walad-awla>d yang berarti anak yang dilahirkan orang tuanya, laki- laki maupun perempuan, besar atau kecil, tunggal maupun banyak. Karenanya jika anak belum lahir belum dapat disebut al-walad atau al-mawlu>d, tetapi disebut al-jani>n yang berarti al-mastu>r (tertutup) dan al-khafy (tersembunyi) di dalam rahim ibu. Kata al-walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan, sehingga kata al-wa>lid dan al-wa>lidah diartikan sebagai ayah dan ibu kandung. Berbeda dengan kata ibn yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan dan kata ab tidak mesti berarti ayah kandung. Selain itu, al-Qur’an juga menggunakan istilah t}ifl (kanak-kanak) dan gula>m (muda remaja) kepada anak, yang menyiratkan fase perkembangan anak yang perlu dicermati dan diwaspadai orang tua, jika ada gejala kurang baik dapat diberikan terapi sebelum terlambat, apalagi fase gula>m (remaja) di mana anak mengalami puber, krisis identitas dan transisi menuju dewasa.
Al-Qur’an juga menggunakan istilah ibn pada anak, masih seakar dengan kata bana> yang berarti membangun atau berbuat baik, secara semantis anak ibarat sebuah bangunan yang harus diberi pondasi yang kokoh, orang tua harus memberikan pondasi keimanan, akhlak dan ilmu sejak kecil, agar ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki prinsip dan kepribadian yang teguh.
Kata ibn juga sering digunakan dalam bentuk tas}gi>r sehingga berubah menjadi bunayy yang menunjukkan anak secara fisik masih kecil dan menunjukkan adanya hubungan kedekatan (al-iqtira>b). Panggilan ya bunayya (wahai anakku) menyiratkan anak yang dipanggil masih kecil dan hubungan kedekatan dan kasih sayang antara orang tua dengan anaknya. Begitulah mestinya hubungan orang tua dengan anak, hubungan yang dibangun dalam fondasi yang mengedepankan kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Sikap orang tua yang mencerminkan kebencian dan kekerasan terhadap anak jelas tidak dibenarkan dalam al-Qur’an.
Hak dan Kedudukan Anak dalam Keluarga Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam, atau sebagai akibat dari perkawinan yang sah atau hasil pembuahan suami isteri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut, sedangkan anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya. Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak dengan li’an (sumpah) bahwa isterinya telah berzina dan anak itu akibat dari perzinaannya dan pengadilan atas permintaan pihak berkepentingan memutuskan tentang sah/tidaknya anak. Seorang anak begitu dilahirkan berhak mendapatkan nafkah dari ayahnya baik pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Landasan kewajiban ayah menafkahi anak selain karena hubungan nasab juga karena kondisi anak yang belum mandiri dan sedang membutuhkan pembelanjaan, hidupnya tergantung kepada adanya pihak yang bertanggungjawab menjamin nafkah hidupnya. Orang yang paling dekat dengan anak adalah ayah dan ibunya, apabila ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak di rumah maka ayah bertanggung jawab mencarikan nafkah anaknya. Pihak ayah hanya berkewajiban menafkahi anak kandungnya selama anak kandungnya dalam keadaan membutuhkan nafkah, ia tidak wajib menafkahi anaknya yang mempunyai harta untuk membiayai diri sendiri. Seorang ayah yang mampu akan tetapi tidak memberi nafkah kepada anaknya padahal anaknya sedang membutuhkan, dapat dipaksa oleh hakim atau dipenjarakan sampai ia bersedia menunaikan kewajibannya. Seorang ayah yang menunggak nafkah anaknya tetapi ternyata anaknya tidak sedang membutuhkan nafkah dari ayahnya maka hak nafkahnya gugur, karena si anak dalam memenuhi kebutuhan selama ayahnya menunggak tidak sampai berhutang karena ia mampu membiayai diri sendiri, akan tetapi jika anak tidak mempunyai dana sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhannya ia harus berhutang maka si ayah dianggap berhutang nafkah yang belum dibayarkan kepada anaknya. Di sisi lain, si anak wajib menghormati orang tuanya dan wajib mentaati kehendak dan keinginan yang baik orang tuanya, dan jika anak sudah dewasa ia mengemban kewajiban memelihara orang tua serta karib kerabatnya yang memerlukan bantuan sesuai kemampuannya.
Menurut Wahbah al-Zuhaili, ada lima macam hak anak terhadap orang tuanya, yaitu: hak nasab (keturunan), hak rad{a’ (menyusui), hak h}ad}anah (pemeliharaan), hak wala>yah (wali), dan hak nafaqah (alimentasi). Dengan terpenuhinya lima kebutuhan ini, orang tua akan mampu mengantarkan anaknya dalam kondisi yang siap untuk mandiri. Kelahiran anak merupakan peristiwa hukum dengan resminya seorang anak menjadi anggota keluarga melalui garis nasab, ia berhak mendapatkan berbagai macam hak dan mewarisi ayah dan ibunya. Dengan hubungan nasab ada sederetan hak-hak anak yang harus ditunaikan orang tuanya dan dengan nasab pula dijamin hak orang tua terhadap anaknya. Hak Rad{a’ adalah hak anak menyusui, ibu bertanggung jawab di hadapan Allah menyusui anaknya ketika masih bayi hingga umur dua tahun, baik masih dalam tali perkawinan dengan ayah si bayi atau pun sudah bercerai. H{ad}anah adalah tugas menjaga, mengasuh dan mendidik bayi/anak yang masih kecil sejak ia lahir sampai mampu menjaga dan mengatur diri sendiri. Wala>yah di samping bermakna hak perwalian dalam pernikahan juga berarti pemeliharaan diri anak setelah berakhir periode h}ad}anah sampai ia dewasa dan berakal, atau sampai menikah dan perwalian terhadap harta anak. Hak nafkah merupakan pembiayaan dari semua kebutuhan di atas yang didasarkan pada hubungan nasab. Hak dan tanggung jawab adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, anak memiliki hak dari orang tuanya dan orang tua dibebani tanggung jawab terhadap anaknya. Jika digolongankan hak anak dapat diketagorikan dalam empat kelompok besar, yaitu hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk mendapat perlindungan dan hak untuk berpartisipasi.
Sebaliknya anak keturunan sudah semestinya berbuat baik dan berkhidmat kepada orang tuanya secara tulus, orang tualah yang menjadi sebab terlahirnya ia ke dunia. Al-Qur’an memerintahkan supaya anak memperlakukan orang tua dengan sebaik-baiknya, ibu yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah lemah serta menyapihnya (menyusui) selama dua tahun sehingga sepatutnya anak bersyukur kepada Allah swt. dan kepada kedua ibu bapaknya, ibu mengandung dengan susah payah melahirkan dengan susah payah yang semuanya itu berlangsung berturut-turut selama tiga puluh bulan, sehingga ketika anak sudah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun memohonlah dia kepada Allah supaya menunjukinya untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya selama ini dan untuk bersyukur (berterima kasih) kepada kedua orang tuanya seraya memohon kebaikan untuknya dan untuk anak cucunya di kemudian hari.
Allah swt. mengharuskan manusia berbuat kebaikan dan mentaati kedua orang tua, hanya terkecuali jika keduanya memaksa menyekutukan Allah, jika salah seorang atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan anak jangan sekali-kali mengatakan “ah” atau membentak, ucapkan pada mereka perkataan yang mulia, Orang tua memiliki hak atas anak, ketika mereka sudah tua dan lemah berhak mendapatkan jaminan nafkah dari anaknya yang sudah mampu mencari nafkah sendiri, mereka berhak menerima warisan jika anaknya meninggal terlebih dahulu.
Tanggung jawab orang tua tidak hanya terbatas pada segi fisik semata tetapi yang lebih penting adalah usaha peningkatan potensi positif agar menjadi manusia berkualitas. Orang tua bertanggung jawab agar anak tidak menyimpang dari nature dan potensi kebaikannya karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan ftrah. Bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, artinya para ibu sangat berperan dalam menentukan nasib anak sehingga surga bagi anak sepenuhnya berada dibawah kekuasaan mereka, karena kuatnya hubungan emosional seorang ibu dapat membentuk jiwa anak hampir sekehendak hati. Orang tua bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak, pencerdasan kognitif (intelectual intelligence), emosi ( emotional intelligence), dan spiritual (spiritual intelligence). Orang tua harus menjadi teladan yang baik, satu kata dan perbuatan, adil dan tidak membeda-bedakan anak baik dari segi usia, jenis kelamin, kelebihan maupun kekurangannya serta menghargai potensi anak dengan sikap kasih dan sayang.

PENUTUP
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh orang tua, yaitu sebagai berikut :
1. Memilih ibu,
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. An-Nur : 26
“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.
Kemudian berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ibnu majah, daruquthni, dan al-hakim berikut :
عن عائشة رضي الله عنها : تَخَيَّرُوْا لِنُطَفِكُمْ وَأنْكِحُوْا اْلأكْفَاءَ. (رواه ابن ماجه والدارقطني والحاكم).
Dari ‘Aisyah r.a. : “pilihlah untuk tempat air mani kamu; dan nikahilah orang-orang yang sepadan.”
2. Memohon perlindungan kepada Allah swt dari setan sebelum bersetubuh,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al-‘Isra : 64
“….dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka”.
عن ابن عبّاس قال قال النبيّ صلّى الله عليه وسلّم لو أنّ أحدَكُم إذا أتى أهلَه قال بسم الله اللّهمّ جنِّبْنا الشيطانَ وجنّبْ الشيطانَ ما رزقْتَنِيْ فإنْ كان بينهما ولدٌ لمْ يضرَّهُ الشيطانُ.
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata : “Nabi saw bersabda : jika kalian mendatangi istri kalian, ucapkanlah : dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan dan jauhkan syaitan atas rezeki yang yang telah engkau berikan. Jika ditetapkan anak bagi mereka, syaitan tidak akan memberikan bahaya.”
3. Janin dalam perut ibu,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al-Baqarah : 222-223
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(222).
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”(223).
4. Adzan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri,
عن عُبَيْدِ الله بن أبي رافعٍ عن أبيه قال رأيتُ رسولَ الله صلّى الله عليه وسلّم أذَّنَ في أُذُنِ حسن بن عليّ حين ولدتْهُ فاطمة بالصلاة.
Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari bapaknya, berkata : “aku melihat Rasulullah saw mengumandangkan adzan pada telingan Hasan bin ‘Ali ketika Fatimah melahirkannya seperti adzan waktu shalat.”
Riwayat lain dalam kitab sunni, dari Husain bin ‘Ali berkata :
قال رسولَ الله صلّى الله عليه وسلّم : مَنْ ولَد لهُ مولودٌ فأذّنَ في أُذُنه اليُمْنىَ، وأقامَ في أُذُنه اليُسْرَى لمْ تضُرَّهُ أمُّ الصبيانِ.
“Barangsiapa yang yang melahirkan anak lalu ia mengadzani pada telinga kanannya dan mengiqamati pada telinga kirinya, maka ummu as}-s}ibya>n tidak akan mengganggunya.”
5. Mentahnik anak,
عن أسماء أنّها حملتْ بعبد الله بن الزبير بمكّةَ قالتْ فخرجْتُ وأنا مُتِمٌّ فأتيتُ المدينةَ فنَزَلْتُ بِقُباءٍ ثمّ أتيتُ رسولَ الله صلّى الله عليه وسلّم فوضعهُ في حَجْرِهِ ثمّ دعا بتمْرَةٍ فَمَضَغَها ثمّ تَفَلَ في فيه فكان أوّلَ شيءٍ دخل جوْفَه ريقُ رسولِ الله صلّى الله عليه وسلّم ثمّ حَنَّكَهُ بالتَمْرَةِ ثمّ دعا له وبرَّكَ عليه وكان أوّلَ مولودٍ وُلِدَ في الإسلام.
Dari Asma’ bahwasanya ia mengandung Abdullah bin zubair di makkah. Ia berkata : “aku keluar dan hamilku telah sempurna(yakni mendekati kelahiran), lalu aku pergi ke madinah, lalu aku beristirahat ke Quba’ lalu aku melahirkannya di quba’ kemudian aku datang kepada Nabi saw, lalu ia meletakkannya dalam pangkuannya. Kemudian mendoakan dengan kurma kunyahannya lalu dianyam dalam mulutnya, sesuatu yang pertama masuk dalam mulutnya adalah air liur Rasulullah lalu ia mentahniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan baginya. Ia merupakan anak pertama yang dilahirkan dalam islam. (H.R. Muslim)
6. ‘Aqiqah, Mencukur rambut bayi, dan Memberi nama anak dengan nama terbaik,
عن سَمُرَةَ : أنّ النبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال في العقيقة : كُلُّ غلامٍ مُرْتَهَنٌ بعقيقته تُذْبَحُ عنْد يومِ سابِعِه ويُحْلَقُ رَأْسُهُ ويُسَمَّى (رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه عن الحسن).
Dari Samurah, sesungguhnya Nabi saw telah bersabda tentang ‘aqiqah : “setiap bayi tergadai pada aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu pula dicukurlah ia dan diberi nama. (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Hasan).
7. Menyusui,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. al-Baqarah : 233
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
8. Khitan,
Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
أنّ النبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال الختانُ سُنَّةٌ للرّجال مَكْرُمَةٌ للنّساءِ.
“Sesungguhnya Nabi saw bersabda: khitan sunnah bagi laki-laki dan dimuliakan bagi perempuan.” (H.R. Ahmad, dari Syadad bin Aus).”
Dan dalam riwayat lain beliau bersabda yang artinya :
Dari Ayyub, ujarnya Rasulullah bersabda : empat hal yang termasuk sunnah-sunnah para Rasul : khitan, mengenakan minyak wangi, siwak, dan menikah.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).
9. Nafkah,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. al-Baqarah : 233
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….”
Dalam hadist, beliau bersabda :
قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم مَن عال جاريتين حتّى تَبْلُغَا جاء يومَ القيامة أنا وهو وضَمَّ أصابِعَهُ.
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang menanggung dua anak perempuan kecil atau budak perempuan sehingga mereka baligh, maka dia datang pada hari kiamat, aku dengan dia seperti dua berikut; beliau menghimpun jari-jarinya.” (H.R. Tirmidzi)
10. H{ad}anah (mengasuh anak),
Sebagaimana hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi :
Telah datang seorang perempuan kepada Nabi saw, lalu oa berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya anak laki-lakiku ini memiliki hak dalam perutku, susuku baginya adalah minuman, pangkuanku baginya adalah udara., jika bapaknya menceraikan aku dan ingin memisahkannya dariku.” Lalu Rasulullah berkata : ‘engkau lebih berhak atasnya,selama engkau tidak menikah’. (H.R. at-Tirmidzi).
11. Adil antara anak-anak,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Yusuf : 8-9
(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.(8)
Bunuhlah Yusuf atau buanglah Dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.(9)
Rasulullah bersabda yang artinya :
Nabi saw bersabda, “berbuat adillah dalam pemberian kepada anak-anak kamu sekalian sebagaimana kamu sekalian senang bila mereka adil dalam berbakti yang sama kepada kamu sekalian(ibu bapak).” (H.R. Muslim).
12. Memberikan pendidikan yang baik, dalam hal akhlaq maupun dalam hal ibadah, contohnya : Mengajarkan atau memberikan tauladan untuk tidak berbohong, Mengajarkan kepada anak untuk meminta izin ketika memasuki rumah-rumah orang lain,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S an-Nur : 27
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”
13. Melatih mereka untuk mengerjakan shalat sejak kecil,
Sebagaimana hadis Rasul :
قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم مُروْا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشرٍ وفرّقوا سبع بينهم في المضاجع.
Rasulullah bersabda: “perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat, ketika mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika meninggalkan) ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur antara mereka.”
14. Harta warisan,
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. an-Nisa’ : 11
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Sedangkan kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah sebagai berikut :
1. Taat terhadap perintah orang tua dan berbuat baik kepada keduanya selama tidak maksiat kepada Allah swt, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Isra’ : 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman : 15)
2. Memberikan nafkah kepada keduanya, ketika keduanya faqir atau sangat membutuhkan sedangkan sang anak hidup berkecukupan.
Sabda Rasulullah saw :
أنت ومالُكَ لوالدك، إنّ أولادكم من أطيب كسبكم، فكلوا من كسب أولادكم (رواه أبو داود)
“Kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu, sesungguhnya anak-anak kalian itu merupakan bagian dari pendapatan atau hasil kerja kalian, maka makanlah dari hasil kerja anak-anak kalian itu.” (H.R. Abu Daud).

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim
al-Nahlawi, Abdurrahman, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibiha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, cet-2, Beirut: Dar al-Fikr, 1983.
Dja’is, Deasy Caroline Moch, Pelaksanaan Eksekusi Nafkah Anak di Pengadilan Agama, (Artikel Jurnal Mimbar Hukum, Jakarta, Al-Hikmah dan DITBINBAPERA Islam No. 42 Tahun X 1999).
Effendi, Satria, Makna, Urgensi dan Kedudukan Nasab dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam, (Artikel Jurnal Mimbar Hukum, Jakarta, Al-Hikmah dan DITBINBAPERA Islam No. 42 Tahun X 1999.
Effendi, Satria, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, cet-2, Jakarta: Kencana, 2004.
Al-Khin, Mushthafa, dkk, al-Fiqh al-Manhaji, juz 4, Dimasyqi : Dar al-qalam, 1987.
Ma’luf, Lois, al-Munjid, Beirut, al-Mathba’ah al-Katsolikiyyah, t.t.
Madjid, Nurcholish, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina, 1997.
Mustakim, Abdul, Kedudukan dan Hak-hak Anak dalam Perspektif al-Qur’an, (Artikel Jurnal Musawa, vol.4 No. 2, Juli-2006).
Nasif, Hadlarat Hifni Bik, dkk, Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah, Surabaya: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah, t.t.
Saifullah, Problematika Anak dan Solusinya (Pendekatan Sadduzzara’i), (Artikel Jurnal Mimbar Hukum, Jakarta, Al-Hikmah dan DITBINBAPERA Islam No. 42 Tahun X 1999).
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah:Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, jilid XV, Jakarta: Lentera Hati, 2004.
As-Subki Ali Yusuf, Fiqh Keluarga : Pedoman Berkeluarga Dalam Islam, Jakarta : Amzah, 2010.
Suryadi, Anak dalam Perspektif Hadis, (Artikel Jurnal Musawa, vol.4, No.2, Juli).
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan Selanjutnya disebut UU. Perkawinan) dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disebut KHI).

Read more from Uncategorized

Leave a Reply